Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Sudah Beroperasi

LAMPUN SELATAN, PUPR Lampung – Setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Minggu (21/1), ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 8,9 kilometer mulai dari Pelabuhan Bakauheni–SS (Simpang Susun) Bakauheni, sudah mulai dilalui berbagai kendaraan.

Kepala Cabang ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar segmen Bakauheni, Hanung Hanindito mengatakan, segmen Bakauheni memiliki dua gerbang yaitu gerbang tol Bakauheni Selatan dan gerbang tol Bakauheni Utara. Kedua pintu tol tersebut sampai saat ini masih dibebaskan dari biaya tol yang menggunakan sistem pembayaran non tunai.

“Sudah kami sosialisasikan ke pengguna jasa tol, ruas tol yang sudah diresmikan oleh Presiden Jokowi bisa dilalui tanpa tarif dan selanjutnya mempergunakan sistem pembayaran non tunai sehingga kita berkoordinasi dengan sejumlah bank hingga nanti berbayar,” kata Hanung, Rabu (24/1).

Ia menyebut belum bisa memberikan keputusan kapan pemberlakuan tanpa tarif bagi kendaraan yang melintas, karena pemberlakuan tarif akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Meski telah beredar disejumlah media sosial tarif untuk kendaraan golongan I dari Pelabuhan Bakauheni menuju simpang susun Bakauheni sebesar Rp 7.000 dan simpang susun Lematang -simpang susun Kotabaru sebesar Rp 4.000 tarif tersebut belum resmi ditetapkan,” lanjutnya.

Lebih lanjut Hanung mengungkapkan, selama masa penggratisan akses, setiap pekan PT. HK akan berkoordinasi dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) dan bank swasta dalam penjualan tiket tol elektronik.

“Yang kami lakukan hingga saat ini adalah mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa tol saat ini menggunakan non tunai, menggunakan uang elektronik.” ungkapnya.
Pihaknya juga mencatat, segmen Pelabuhan Bakauheni-SS Bakauheni setiap harinya telah dilalui kendaraan sebanyak 2.800 unit dari berbagai jenis golongan kendaraan.

“Sebagian besar kendaraan yang melintas 60 persen didominasi kendaraan golongan I berupa kendaraan pribadi roda empat dan 40 persen sisanya merupakan kendaraan golongan II hingga V,” pungkasnya. (*)